• We are available for your help 24/7
  • Email: info@isindexing.com, submission@isindexing.com


Jurnal jaffray

Journal Papers (20) Details Call for Paper Manuscript submission Publication Ethics Contact Authors' Guide Line
1 Kepemimpinan dan Tantangan Pluralisme Sosial, Jason Lase
Kepemimpinan memiliki ragam definisi dari berbagai ahli dan dapat diteropong atau diuaias dari berbagai sudut pandang dan disiplin ilmu. Luasnya uraiantentangKepemimpinaninidapatditelaahdarisudutpandangKepemimpinan Administratif, filsafat kepernimpinan, kepemimpinnan Kristen Alkitabiah, Teologi Kepemimpinan, dan Kepemimpinan Tradisional yg hidup dan ditaati dalam berbagai suku bangsa di Indonesia. Piuralisme sosial adalahbentuk keanekaragaman masyarakat, baik dari segi adat istiadat, sukubangsa, religi/kepercayaan/agama, bahasa, kebiasaan, kesenian, maupundari segisistem ekonomi, sistem organisasisosial, sistempengetahuan, dll. Keanekaragaman dalam pluralisme sosial merayap ke semua segi kehidupan masyarakat, termasuk juga keanekaragaman ide, keanekaragaman rasa atau selera, dan keaneka ragaman kcpentingan. Pendek kata, dalam pluralisme sosial terdapat keanekaragaman yang harmpirtidak terbatas.
2 Kepemimpinan Kristen yang Efektif, Jermia Djadi
Dalam sepanjang sejarah, kualitas kepemimpinan merupakan faktor penenru dalam keberhasilan suatu organisasi,baik dalamduniausahamaupun dalam dunia pendidikan, pemerintahan, politik, kesehatan, dan agama, khsusnya agama Kristen. Organisasi apa pun di dunia ini pasti pernah mengalami kegagalan. Salah satu penyebabnya adalah faktor kepemimpinan yang kurang memadai. Menurut pengamatan penulis, masalah kepemimpinan masih merupakan kendala dalam pengembangan organisasi dan misi Kristen di Indonesia. Masalah kepemimpinan dan pemimpin merupakan keburuhan yang urgen dalam suaru organisasi pada masa kini. "Kepemimpinan menjadi kunci pembuka bagi suksesnya organisasi"
3 Eksegesis Yeremia 33:7-8, Peniel C.D. Maiaweng
erdasarkan Yeremia 33:7 -Smenunjukkan bahwa TUHAN bertanggung jawab terhadap kehidupan orang-orang yang percaya yang kepada-Nya dan Ia bersikap adil dalam menghadapi cara hidup umat-Nya. Pada satu sisi, ada saat di mana Ia menghukum mereka karena dosa yang mereka lakukan, tetapi pada sisi lain, ada saat di mana Ia menyadarkan mereka melalui janji di dalam firman-Nya agar mereka datang kepada-Nya dan mengaku dosa mereka untuk mengalami pengampunan dan pemulihan dari-Nya. Penekanan penting di sini adalah jika kita disadarkan oleh Tuhan tentang dosa yang kita miliki, maka kita harus meninggalkannya, agar kita dapat menikmati anugerah, pengampunan dan keselamatan dari Tuhan
4 Pergulatan Filosofis Tentang Theisme dan Atheisme, Sindung Tjahyadi
Theisme merupakan salah satu bagian dari kajian Teologi (harafiah: Theos = Tuhan, Logos = ilmu, pemikiran). Theisme sendiri merupakan suatu paham yang meyakini Tuhan itu ada.Argumen-argumen yang dibangun untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada, merupakan bagian dari upaya yang dilakukan oleh Teologi narural. Teologi natural merupakan sebuah usaha unruk memperoleh kesimpulan kesimpulan yang bermakna tentang eksistensi Tuhan yang didasarkan hanya pada pikiran manusia saja. Teologi natural bersandar pada kemampuan-kemamplan kognitif manusia seperti: pengalaman, ingatan, instropeksi, penalaran deduktif, penalaran induktif, dan inferensi, unruk mendapatkan eksplanasi yang paling baik ini berbeda dengan Teologi pewahyuan (revealed theolog) yang mendasarkan arumentasinya pada pernyataan-pernyataan yang dinyatakan telah difirmankan oleh Tuhan atau atas dasar kejadian-kejadian yang dianggap sualu ungkapan dari Tuhan
5 Peranan Kaum Awam dalam Pertumbuhan Gereja KIBAID Jemaat Latimojong, Polikarpus Ka'pan
Dalam menindaklanjuti amanat Agung Yesus Kristus yang yang rerdapat dalam Matius 28 :1, 20 Yaitu menjadikan sekalian bangsa murid-Nya maka kaum awam harus diberi pelatihan dan peran agar terlibat dalam berbagai bentuk kehidupannya menjadi saksi Kristus sehingga Gereja dapat bertumbuh. Gereja KIBAID Latimojong berkembang dengan berdirinya beberapaJemaat di Makassar, karena kaum Awam diberi pelatihan dan peran dalam bersaksi. Dalam tulisan ini akan dipaparkan tentang dasar Alkitab mengenai peran atau keterlibatan kaum Awam dan strategi Pertumbuhan Gereja. Bagian ini merupakan rinjauan pustaka yang dianggap sangat penting sebagai landasan untuk melangkah pada pembahasan inti yairu peranan kaum awam sebagai strategi pertumbuhan gereja KIBAIDJemaat Latimojong. Landasan tersebut adalah pemahaman dasar tentang peranan kaum awam dalam pertumbuhan gereja.
6 Peranan Kaum Awam dalam Pertumbuhan Gereja KIBAID Jemaat Latimojong, Polikarpus Ka'pan
Dalam menindaklanjuti amanat Agung Yesus Kristus yang yang rerdapat dalam Matius 28 :1, 20 Yaitu menjadikan sekalian bangsa murid-Nya maka kaum awam harus diberi pelatihan dan peran agar terlibat dalam berbagai bentuk kehidupannya menjadi saksi Kristus sehingga Gereja dapat bertumbuh. Gereja KIBAID Latimojong berkembang dengan berdirinya beberapaJemaat di Makassar, karena kaum Awam diberi pelatihan dan peran dalam bersaksi. Dalam tulisan ini akan dipaparkan tentang dasar Alkitab mengenai peran atau keterlibatan kaum Awam dan strategi Pertumbuhan Gereja. Bagian ini merupakan rinjauan pustaka yang dianggap sangat penting sebagai landasan untuk melangkah pada pembahasan inti yairu peranan kaum awam sebagai strategi pertumbuhan gereja KIBAIDJemaat Latimojong. Landasan tersebut adalah pemahaman dasar tentang peranan kaum awam dalam pertumbuhan gereja.
7 Siklus Identitas sosial Sebagai Adaptasi Identitas Diri Dari Peran yang dipandang Sebagai Penyimpangan, Ivan Th.J Weismann
Keberhasilan pencapaian identitas diri yang dilebel sebagai penyimpangan ternyata melibatkan beberapa tahap dan beberapa faktor. Menurut teori siklus identitas sosial ada beberapa tahap dan setiap tahap mengandung beberap faktor yang terlibat dalam menentukan pencapaian identitas diri. Tahap prasosialisasi terdapat faktor self deprecation dan self confidence. Tahap penemuan atau diskoveri mengandung faktor evaluasi, komitmen implisit atau eksplisit, kontak dengan orang lain yang memiliki identitas peran sama, memiliki konsep peran yang dimainkan. Tahap konstruksi mengandung faktor tahap pertandingan, pengetahuan dan penggunaan produk arau barang kepemilikan yang mendukung peran yang dimainkan. Tahap latensi terdapat faktor penghentian akrivitas. Tahap disposisi atau penyusunan mengandung faktor nostalgia, atau kenangan lama, rasa malu, kesedihan, pengunduran diri, penyesalan, frustrasi, memandang identitas tersebut sebagai tidak realistik. Tahap pemantapan (maintenance) terdapat faktor akumulasi keterampilan dan kepemilikan yang sesuai dengan identitas.
8 Ketika Kekristenan hendak mempercakapkan keberbedaan di atas maka percakapan itu akan didasarkan pada apa yang dipandang sebagai hakikat dari iman Kristen. Dan menurut Paul F, Knitter, jika hendak menggunakan hakikat Kekristenan maka pengungkapan itu senantiasa berkaitan dengan, dan mempunyai dasar serta berpusat pada Yesus Kristus. Ini berarti bahrva bagaimana percakapan tentang keberbedaan di atas bergantung pada Kristologi yang ada di balik percakapan tersebut. Persoalannya hingga saat ini ada begitu banyak pemahaman tentang Yesus Kristus dalam komunitas Kristen. Bahkan dari awal mulainya sejarah Kekrisrenan tercatat bahwa pengikut-Nya telah merumuskan beragam pemahaman tentang diri-Nya. Bakan pada penulis Injil pun menggambarkan Yesus Kristus dengan beragam pemahaman. Kenyataan ini menunjukkan bahwa konteks sangat berpengaruh dalam merumuskan Kristus yang diimani oleh pada pengikut-Nya. Hal inilah yang mendorong penulis mencoba unruk memberikan gambaran ringkas (sketsa) satu tema dalam kristologis yang seringkali menjadi persoalan dalam konteks kemajemukan agama., Rudy Harold
Ketika Kekristenan hendak mempercakapkan keberbedaan di atas maka percakapan itu akan didasarkan pada apa yang dipandang sebagai hakikat dari iman Kristen. Dan menurut Paul F, Knitter, jika hendak menggunakan hakikat Kekristenan maka pengungkapan itu senantiasa berkaitan dengan, dan mempunyai dasar serta berpusat pada Yesus Kristus. Ini berarti bahrva bagaimana percakapan tentang keberbedaan di atas bergantung pada Kristologi yang ada di balik percakapan tersebut. Persoalannya hingga saat ini ada begitu banyak pemahaman tentang Yesus Kristus dalam komunitas Kristen. Bahkan dari awal mulainya sejarah Kekrisrenan tercatat bahwa pengikut-Nya telah merumuskan beragam pemahaman tentang diri-Nya. Bakan pada penulis Injil pun menggambarkan Yesus Kristus dengan beragam pemahaman. Kenyataan ini menunjukkan bahwa konteks sangat berpengaruh dalam merumuskan Kristus yang diimani oleh pada pengikut-Nya. Hal inilah yang mendorong penulis mencoba unruk memberikan gambaran ringkas (sketsa) satu tema dalam kristologis yang seringkali menjadi persoalan dalam konteks kemajemukan agama.
9 Menyikapi Kerapuhan Sistem Sosial Sebuah Pergumulan Teologis, T. R. Andi Lolo
Mengapa saya sangat tertarik berbicara tentang kerapuhan sistem sosial. Jawabannya ialah karena semua sistem, termasuk sistem sosial sedang dilanda oleh arus global yang tidak dapat dibendung dan sangat potensil memporak-porandakan semua sistem yang sudah mapan sekalipun. Gejala kerapuhan ini tidak bisa kita biarkan melainkan harus disikapi karena pada akhirnya, akibat dari arus tersebut akan menimpa umat manusia sebagai anggota dari berbagai sistem kehidupan, baik kehidupan ekonomi, sosial, politik, dan bahkan tidak terkecuali kehidupan sebagai anggota dari komunitas agama. Sesuai dengan suasana dan lingkungan di mana orasi ini disampaikan, saya memilih bentuk kehidupan yang terakhir tadi sebagai bidang kajian untuk kita renungkan bersama.
10 Majelis Rakyat Papua dan Pemberdayaan Orang Asli Papua, Usman Pakasi
The objective of this research is to find out theoretical understanding about role of Papua Council in empowering local people. The study conducted thoroughly by using qualitative mechod and phenomenologic strategy. The location of this research is based on the object its material where the institution located, namely in Jayapura city. The empiric obrained through interview technique, observation, and other secondary data. The result of research shows that Papua People Council is the cultural representation of the indigenous peple of Papua that consist of traditional people, women and religion. This institution plays role in keeping the interest and protecting Papua people's righrs by doing supervision upon government policy. The empowerment of local people specially related ro tradisional people, women and religion. The empowerment related to the economy, social, culture, politic, and law. The empowerment intended to give the advantage for the prosperity and the sense of justice for the indigenous people of Papua in development.
11 Teori Individuasi Carl Gustav Jung, Ivan Th. J. Weismann
Masyarakat pada masa kini adalah masyarakat yang telah beralih dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Masyarakat modern punya ciri khas tersendiri begitu pula dengan masyarakat pasca modern. C. G. Jung membahas tentang masyarakat yang berindividuasi. Apakah masyarakat yang berindividuasi itu adalah termasuk dalam salah satu ciri dari masyarakat modern. Individu yang mampu mengatasi persoalan masyarakat moderen ialah individu yang mencapai tahap-tahap proses individuasi ini atau yang disebut pula sebagai individu yang berindividuasi.
12 Musik Kontemporer, Yohan C. Tinungki
Tulisan ini menunjukkan betapa musik berubah dan tidak sama dari tempat ke tempat, dari waktu ke waktu, pada lingkungan yang berubah. Perubahan-perubahan itu pada toleransinya yang berbeda, baik secara kelompok maupun individu, dipengaruhi oleh kesadaran estetikdalam ruang budaya masing-masing
13 Kepemimpinan Model Gembala, Daniel Ronda
Tren kepemimpinan teiah berkembang sangat pesat dan dapat dengan mudah dipelajari secara mandiri. Bahkan nirai dan prinsip biblika teiah mewarnai semua lini prinsip iJmu kepemimpinan. Namun dalam lini praktika, kita diperhadapkan dengan kompleksitas kulrural, masalah sosial, dari konteks yang sangat beragam. saat ini kita tidak boleh berhenti dengan penerapan kepemimpinan dalam kehidupan kita. Ada banyak keunikanyang akan kita temukan di lapangan. Seperti kata Robert Clinton, kita sedang memasuki "universitas kehidupan" ("university of life"), di mana penerapan nilai kepemimpinan tidak pernah berhenti. Niiai-nilai itu harus terus digali dan diaplikasikan.
14 KECIL ITU INDAH, SEHAT & MENARIK (SEBUAH PENGANTAR ANALISIS TEOLOGI PRAKTIS DI SEPUTAR " HEALTH CHURCH GROWTH"), Petronella Tuhumury
Adalah kehendak Tuhan yang mutlak bahwa gereja-Nya harus bertumbuh. Tapi pertumbuhan yang dimaksud adalah pertumbuhan yang sehat dan wajar bukan pertumbuhan yang "dikarbit" alias mengikuti "trend" masa kini, tapi justru yang jauh dari sehat. Judul di atas, bukan dimaksudkan sebagai anti pertumbuhan dimensi makro yang berkuantitas besar. Tetapi kuantitas yang dimaksud adalah kuantitas yang berkualitas, sebuah idaman yang menarik, segar dan mengundang simpati (Kis. 2:46-47), bukan sebaliknya yang akhirnya membosankan dan pada ujungnya menciptakan hubungan yang retak, tidak harmonis atau dianggap anti toleransi serta pada akhirnya anti pertumbuhan.
15 Kajian Analisis Terhadap Konsep Pemikiran John Dewey, Peniel C.D. Maiaweng
John Dewey dikenal oleh karena konsep pemikirannya tentang pragmatisme, relativisme, dan active learner. Untuk itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang riwayat hidup John Dewey sebagai dasar pemunculan konsep pemikirannya (yang tertuang dalam konsep filsafat, agama, dan pendidikan), sumbangsihnya dalam dunia pendidikan, dan kritik terhadap konsep pemikirannya berdasarkan perspektif Kristen.
16 Kepemimpinan Gembala: Suatu Kajian Filosofis tentang Proses Integrasi Kepemimpinan Rohani dan Sekuler, Nicodemus Yuliastomo, Ivan Th.J Weismann
Tugas gembala jemaat untuk memelihara umat Allah, merupakan tugas yang sangat strategis. Pada satu sisi manusia diperhadapkan kepada kompleksitas permasalahan yang semakin lama semakin rumit. Gereja melalui fungsi penggembalaannya bisa menjadi tempat bagi orang-orang untuk mendapatkan jawaban dan pertolongan dalam hidupnya. Pada sisi yang lain dengan tingkat perkembangan sumber daya manusia dan ilmu pengetahuan yang semakin maju, gereja sebenarnya bisa memanfaatkannya untuk pelayanan secara maksimal. Realitanya, sekarang orang lebih mencari jawaban melalui apa yang ditawarkan para pofesional dunia. Gereja dianggap ketinggalan jaman dalam upaya menjalankan tugas dan fungsinya. Melalui berbagai pandangan dan survei yang ada, diperoleh kesimpulan bahwa salah satu penyebab kemunduran gereja adalah tidakberfungsinya kepemimpinan gembala dengan baik. Mengingat kondisi seperti ini kepemimpinan gembala mesti digali, dikaji , dan dikembangkan, salah satu diantaranya melalui pendekatan dengan bidang lain, dalam hal ini integrasi kepemimpinan rohani dan sekuler. Melalui tehnik pengumpulan data literatur (Library Research), yaitu melakukan penyelidikan terhadap buku-buku dan tulisantulisan yang berkaitan dengan karya ilmiah, berdasarkan pendekatan : hermeneutik, komparatif, evaluasi dan induksi dan diduksi. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh pengertian kepemimpinan gembala sebagai proses integrasi kepemimpinan rohani dan sekuler serta kontribusinya bagi pelayanan gereja, sehingga gembala dan gereja dapat menjalankan pelayanannya dengan baik.
17 Pembinaan Kerohanian Gereja Bethel Tabernakel dalam Konteks Kebudayaan Toraja, Yonatan Sumarto, Peter Anggu
Penulisan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan mengembangkan pola pikir para hamba Tuhan yang melayani di Tana Toraja mengenai keberadaan dan fungsinya di tengah-tengah masyarakat Toraja yang masih terikat pada adat dan kebudayaannya. Manfaat lain dari tulisan ini adalah sebagai suatu acuan dan tuntunan praktis bagi para hamba Tuhan dalam GBT khususnya yang melayani di Tana Toraja, untuk mendiskusikan lebih lanjut tentang cara memanfaatkan kebudayaan suku Toraja, agar dapat menemukan suatu cara yang lebih efektif untuk pembinaan rohani GBT pada masa sekarang dan yang akan datang. Sejalan dengan permasalahan dan tujuan penulisan ini, penulis mengadakan penelitian yang difokuskan pada konteks kebudayaan Toraja, untuk mengetahui dan mengkontekstualisasikan elemenelemen yang positif dalam kebudayaan suku Toraja untuk pembinaan kerohanian GBT di Tana Toraja. Pengumpulan data dilakukan dengan dengan metode analisis, yaitu mengadakan observasi dan interview serta studi literatur pada perpustakaan. Hasil penelitian menggambarkan bahwa ternyata di dalam berbagai kebudayaan suku Toraja terdapat unsur-unsur kebudayaan yang dapat dikontekstualisasikan untuk pembinaan rohani GBT karena bersifat netral terhadap iman Kristen, tetapi ada pula yang tidak dapat dikontekstualisasikan karena bertolak belakang dengan iman Kristen. Kebudayaan yang dapat dikontekstualisasikan, seperti konsep penyembahan kepada Puang Matua dan kepada tiga oknum Allah, upacara rambu tuka , upacara rampanan kapa, pemali-pemali (larangan), tongkonan, sikap gotong-royong, dan saling memberi. Kebudayaan yang tidak dapat dikontekstualisasikan, seperti penyembahan kepada banyak dewa dan kepada arwah nenek moyang, kurban kepada orang mati, patung sebagai pengganti orang mati (tau-tau), upacara rambu solo , mabadong. Namun, hal ini tidak lepas dari masalahmasalah karena iman percayanya kepada Yesus Kristus. Tetapi sebagai gereja/orang Kristen yang sungguh-sungguh berpegang teguh pada Firman Allah, tidak akan gentar menghadapi semuanya itu, bahkan semakin memiliki iman Kristiani yang kokoh.
18 Analisis Faktor Penyebab Utama Kecenderungan Bunuh Diri di Kalangan Remaja yang Berusia 15-17 Tahun di Makassar, Hermin Mallo, Daniel Ronda
Pokok masalah penelitian ini ialah apa yang menjadi penyebab utama terjadinya kasus bunuh diri di kalangan remaja yang berusia 15 sampai 17 tahun? Adapun tujuan penulisan ini adalah sebagi berikut: memberitahukan kepada pembaca bahwa yang menjadi penyebab utama terjadinya kasus bunuh diri adalah masalah yang dihadapi oleh remaja yang berusai 15-17 tahun dengan keluarga mereka. Penyebab lainnya adalah depresi dan konsep diri yang keliru. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah siswa berusia 15 sampai 16 tahun (kelas X) di SMU Kristen Diakui Makassar, dan siswa berusia 15-17 tahun (kelas X dan XI) di SMA Gamaliel Makassar. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X di SMU Kristen Diakui Makassar, dan siswa kelas XI PIA 2 dan kelas XI PIS, kelas X-5 di SMU Gamaliel Makassar. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara , angket, dan observasi. Teknik analisis data ialah analisis statitik dengan program SPSS 15. Hasil penelitian ini ialah ada tiga masalah yang dihadapi oleh remaja yang berniat melakukan bunuh diri, yaitu: Depresi. Depresi yang mereka alami adalah puncak dari semua perasaan bersalah, marah, tidak berarti dan tidak diinginkan. Depresi yang berat menjadi salah satu penyebab terjadinya bunuh diri. Konsep diri. Masalah konsep diri banyak dialami oleh remaja. Konsep diri yang keliru membuat mereka merasa tidak diinginkan, tidak berharga dan tidak seorang pun mengasihi mereka. Konsep diri yang salah ini juga dipengaruhi oleh teman sebaya mereka. Remaja berusaha untuk menjadi eperti yang diinginkan oleh teman sebaya agar mereka bias diterima dan diakui oleh kelompok teman sebaya mereka. Hubungan dalam keluarga. Hubungan dalam keluarga menyangkut perceraian orang tua mereka dan penerimaan dari orang tua. Perceraian orang tua melukai anak remaja dan membuat mereka merasa tidak dikasihi dan menyalahkan diri atas perceraian itu. Orang tua yang tidak menerima anak remajanya sebagai diri mereka sendiri memuat remaja berusaha untuk menjadi orang lain dan merasa orang tua mereka baru akan mengasihi mereka saat mereka menjadi remaja yang orang tua mereka inginkan bukannya menjadi mereka
19 Pengaruh Pemberian Persepuluhan Atas Kerohanian Gereja Sidang Jemaat Allah Jemaat Victorius Worship Family Makassar, Christina Evi Paligi, Ivan Th.J Weismann
Yang menjadi pokok masalah dalam penulisan karya ilmiah ini adalah sejauh mana sikap jemaat dalam hal perpuluhan berpengaruh atas perkembangan rohani, dan sejauh mana sikap jemaat dalam perpuluhan berpengaruh atas perkembangan usaha. Tujuan penulisan ini ialah untuk mencari tahu faktorfaktor apa yang menyebabkan jemaat tidak setia dalam memberi persepuluhan kepada Tuhan, dan untuk mencari tahu mengapa jemaat tidak memahami dengan benar tentang persepuluhan. Penelitian akan mengambil sample yang terdiri dari 50 anggota jemaat yang sudah berpenghasilan. Teknik pengumpulan data melalui angket dan teknik analisis data yaitu penggunaan analisis statistic dengan program SPSS 15. Adapu hasiul penelitian bahwa tingkat pendidikan jemaat GSJA Victorious Worship Family Makassar sangat berpengaruh terhadap perkembangan rohani jemaat, di mana apabila terjadi peningkatan pada tingkat pendidikan jemaat maka perkembangan rohaninya mengalami penurunan. Kedua, bahwa tingkat pendidikan jemaat sangat berpengaruh terhadap keberhasilan usaha jemaat, di mana apabila terjadi peningkatan pada tingkat pendidikan jemaat maka keberhasilan usaha jemaat mengalami peningkatan. Ketiga, bahwa tingkat pendidikan jemaat sangat berpengaruh terhadap sikap memberi persepuluhan kepada Tuhan, di mana apabila terjadi peningkatan pada tingkat pendidikan maka tingkat sikap memberi persepuluhan kepada Tuhan mengalami perkembangan.
20 Peran Orang Tua Terhadapa Perkembangan Pribadi Remaja Atas Pemanfaatan Internet di Kalangan Remaja di SMU Advent Makassar, Vita Olivia Maruanaya, Ivan Th.J Weismann
Pokok masalah dalam penulisan ini adalah sejauh mana peran orang tua dalam perkembangan pribadi remaja atas pemanfaatan internet dikalangan remaja. Adapun tujuan yang ingin dicapai ialah untuk membahas peran orang tua dalam perkembangan pribadi remaja atas pemanfaatan internet dikalangan remaja. Penelitian ini mengambil sampel yang terdiri dari 40 orang tua atau 40 keluarga dan 40 siswa remaja. Sampel siswa remaja diambil dari siswa SMU Advent dan sampel orang tua dari orang tua siswa. Penulis menggunakan kuesioner dan wawancara sebagai teknik pengumpul data. Teknik analisis data ialah analisis statistic dengan program SPSS 15. Hasil penelitian ini ialah pengaruh peran orang tua kepada kualitas pribadi anak masih kurang, sehingga hanya memberikan pengaruh negatif kepada kualitas pribadi anak, sehingga anak kurang memakai internet untuk hal positif.